Little Prince

They’re My saengi [oneshoot] for onyu’s birthday


title               : They’re My Saengi
author         : Thata
Cast              :  Lee Jinki SHINee, Lee Taemin SHINee, Lee Hoogeun a.k.a thata, Kim Chaerin a.k.a Zeya

other cast  : Kangin SUJU, Taeyeon SNSD, Sungmin SUJU, Sunny SNSD
Genre           : Family, Friendship
Lenght         : oneshoot
Rating          : General
Disclaimer : jinki+temin+sunny punya thata /PLAK dan cerita ini punya thata orisinil nil nil nihil MySpace

NB                : disini temin dan hoogeun itu kembar, tp yang satu cewe yang satunya cowo, trus chaerin itu adalah go hara kara
A/N              : FF ini buat My beloved JINKI. MySpace saengil CHUKAE ONYU TAHU (?) ide ini sudah ada di pagi hari tadi,

karena berhubung thata kuliah diurungkan lah niat buat ffnya hingga malam tiba. terus diperjalanan buat ff,

thata nonton film steven chow. ada yg nonton? (loh?) di indosiar loh. nah jadinya thata belum menyelesaikannya.

jeng jengg….tararam akhirnya jadi juga, eh ternyata udah ada FF-nya Ima shineeworld <–sekalian promo ff dong

huhuhuhuhuu- thata terlambat. MySpace jadi thata bersikukuh nih, takut semakin terlambat lagi. hehehee makanya thata post.

yah yah modem bego nih. urghh~ lama banget. arghhhhhhh <–malah curhat

baiklah siapkan ikat kemudi,  lilitkan dileher dan taraaaa….RCL yah (doeng?)

OKEH YANG JADI SILENT READERS MySpace SIAP2 GAK KETEMU JINKI NTAR DI HIDUPNYA. HOHOOO- MySpace

“tiup lilinnya” seru mereka serempak, dan aku meniup lilin berbentuk angka 20. Yaampun aku sudah setua itu ternyata.

“oppa…jangan lupa makan martabak strawberry ya!” pinta gadis kecil berpipi tambun sama persis denganku

“hayampun, tunggu aku dapat gaji dulu ya,” ajuku, dia langsung menggembungkan pipinya yang tambun, semakin tambun mirip seperti bibi Taenggo.

“hyung…aku ingin sasimi, sasimi sasimi sasimi sasimi. Aha aha aha-” seru anak lelaki yang berambut jamur itu kepadaku, sambil menari poco-poco

“hayampun, sasimi mahal tahu!” aku menepuk jidatku, hari ini aku benar-benar miskin

“ha, kalo begitu kembalikan kuenya,” ucap gadis kecil itu sambil menarik kembali kue yang sudah ku tiup lilinnya

“iyaaa iyaaa, kalo begitu kuenya tidak jadi!” setuju anak lelaki itu juga, aku berkacak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalaku

“kalian ini benar-benar, yang berulang tahunkan aku! masa kalian yang minta hadiah!” sebalku sambil melipat kedua tanganku, mereka masih mengambek, menatapku seperti ingin menangis

“hyung tega…hikss!” tangis anak lelaki itu, memasang mata bulat besar seperti anak anjing yang tersesat

“oppa jahat….uweee~” tangis gadis kecil itu, mereka saling berpelukan

“haduh,” aku menepuk kembali jidatku ,”iya deh aku belikan,” akhir kataku dan mereka serempak langsung memeluk kaki jenjangku. Maklum mereka masih berumur 4 tahun, jadi masih bertubuh mini-mini.

“hyung(oppa) saranghae, saengil chukae!!!” seru mereka dengan serempak, aku langsung menggendong dua makhluk mini itu.

“ye, nado saranghae!” jawabku

14 Desember 2009, hari dimana aku lahir, hari dimana aku bernafas, hari dimana aku menjumpai dunia ini. terkadang menyesal tidak mempunyai kekasih, karena setiap hari kelahiranku ini tiba, yang selalu merayakannya adalah si kembar Hoogeun dan Taemin. Yah selama 4 tahun belakangan ini. mereka adalah adik angkatku, mereka ku temukan di panti asuhan 4 tahun yang lalu. Dimana mereka masih bayi, dan belum mengetahui kalau aku bukanlah kakak kandung mereka. Sampai sekarangpun juga, tidak ada yang tahu dan aku juga tidak mau tahu. Aku sayang mereka, aku berharap sepanjang hari kelahiranku tiba, mereka adalah orang pertama yang selalu mengucapkan ‘saengil chukae’ kepadaku. Cukup hanya itu.

“hyung……sasiminya dimakan dong!” seru Taemin, sambil mengacung-ngacungkan garpu miliknya.

“iya tae-ya,” ucapku, dia mengangguk pelan

“oppa?” panggil Hoogeun

“mwo?”

“kenapa sih tidak mencari kekasih?” tanyanya tiba-tiba, aku terdiam sejenak

“wah untuk apa? Aku kan sudah punya kalian berdua,” godaku

“aku? aku tidak mau gay,,,hiiiii” seram Taemin

“kalau begitu samaku saja,” aju Hoogeun, aku mengangguk semangat

“benarkah geun-ya?” tanya Taemin antusias

“iya, tentu saja!” bangga Hoogeun

“kau tidak takut karma?” tanya Taemin masih saja ngotot

“karma apa? Maksudnya?” bingung Hoogeun

“ya karma, kan karma kalau kita menikah dengan saudara kita sendiri,” jawab Taemin sok mengerti

“ah! Masa?” kejut Hoogeun tidak percaya ,”benarkah itu oppa?” tanyanya kepadaku

“tidak ada karma,hahahhahaa~” tawaku meledak, membuat Taemin menggembungkan pipinya yang tambun juga

“kenapa tertawa?” sebal Taemin

“tau darimana karma?” tanyaku masih menahan tawa

“tau dari tante ichul, katanya gitu, karma karma karma karma,” nyanyi Taemin sambil menancap garpunya ke semua sasimi

“emang karma apa sih taemin?” tanya Hoogeun, aku melirik serius kearah Taemin

“karma?” ulangnya, dia mengunyah sasiminya dulu, “hemm kuorma iuku ada’ah kuorma, i wya iuku diya.” Ucapnya sambil mengunyah

“ah! Tae-ya habiskan dulu sasiminya,” kesal Hoogeun

“helkk..!“ telannya bulat-bulat ,”sudah ku telan!” bangganya

“jadi apa karma?” tanya Hoogeun penasaran

“karma itu kata tante ichul adalah karma, ya karma! Pokoknya hal yang berbau-bau mistis gitu,” terang Taemin sambil membuat gerakan-gerakan aneh dengan tangannya

“mistis?” ulang Hoogeun sepertinya tidak mengerti

“iya, hujan tidak datang, bumi gonjang ganjing, ular melingkar, dan mata berair, itu semua mistis kan?” jelas Taemin, dia melanjuti acara makan sasiminya

“ha? Mistis?” Hoogeun masih tidak mengerti

“haish! Tidak usah di fikirkan,” relaiku, dan dia menatapku bingung

“oppa tau apa itu mistis?” tanyanya

“mistis itu hal-hal yang berbau dunia gelap, seperti hantu, malaikat, iblis, dewa, dewi, dongeng-dongeng bajak laut, seperti itu lah!” jelasku, terlihatlah wajah merindingnya Hoogeun

“gyaaaa- menakutkan sekali!” seramnya

“hahha, tidak akan ada karma geun-ya. Tidak akan ada,” aku coba menenangkannya

“kullseyo?” tanyanya sambil mengapus air mata, dia menangis hanya karna karma itu.

“uwaaa, jangan menangis jagi-” aku memeluknya, “tidak akan ada karma yang bisa memisahkan kita, aku jamin!” yakinku, dan mengusap-ngusap pundaknya

“geun-ya….” Panggil Taemin yang ikutan sedih, dia juga memeluk Hoogeun.

Beginilah keluargaku, yang kecil, harmonis dan juga manis. Tidak ada yang berperan sebagai Umma didalam keluargaku ini. hanya ada sepasang kakak beradik yang memiliki seorang Kakak lelaki yang selalu menemani mereka kapanpun dan dimanapun. Pernah suatu hari, tante ichul ingin mengambil salah satu dari mereka untuk dijadikan anaknya. Tetapi Hoogeun dan Taemin tidak mau dipisahkan, tante ichul-pun akhirnya mengambil mereka berdua. Tetapi lagi, hanya saja mereka juga tidak mau berpisah denganku. Ketika itu umur mereka masih 1 tahun, ya ingat sekali.

“baiklah, tante juga mengajak oppa-mu, mau?” tawar tante ichul

“uppa? Taemin uppa?” ulang Hoogeun kecil, tante ichul mengangguk-angguk manis

“na?” tanya Taemin pada dirinya “andwae,” bantahnya


“uppa tidak mau ikut sama geun-ya?” tanya Hoogeun, aku hanya menggendong Taemin dan menatapnya. Apa yang sedang di fikirkan bocah ini? apa dia tidak mau bersama-sama dengan adiknya lagi?

“andwae! Geun-ya nakal, meninggalkan uppadeulmu dicini, aku tidak mau ikut sama geun-ya!” bantahnya, dia tidak menatap Hoogeun lagi

“ugyaaaaa- uppa!” tangis Hoogeun meledak, tante ichul kaget bukan main

“uwaaa hoogeun, jangan menangis kalau oppamu tidak mau ikut,” bujuk tante ichul, dia menarik tangan seseorang dari luar rumah, dan mengajak bocah lelaki yang berumur 4 tahunan keluar dari dalam mobil ,”kau akan punya oppa baru,” ucapnya lagi

“uppa baru?” ulang Hoogeun menghentikan tangisannya

“annyeong-” sapa anak lelaki itu dengan senyum kecut

“ini yeye oppa,” ucap tante ichul, memperkenalkan anak bungsunya

“yeye uppa?” ulang Hoogeun sepertinya tertarik, dia melangkah kearah Yeye dan melihatnya dengan seksama. Apalagi Yeye sedang menggendong seekor kura-kuran mini yang bergerak-gerak, tanda hidup.

“haish-” gerutu Taemin, dia minta turun dan menghampiri Hoogeun

“geun-ya! Uppa mu hanya tae-ya, dan bukan dia. Dia bukan uppamu, uppa-nya geun-ya hanya tae-ya.” Amuknya, dia menarik tangan adiknya itu untuk menghindari si Yeye

“tapi uppa….” Rengek Hoogeun

“tidak ada tapi-tapi, geun-ya harus tetap tinggal dicini sama kita,” tegasnya

“ah tae-ya jangan seperti itu dengan adikmu,” ucapku

“tidak hyung, kami tidak akan meninggalkan hyung, tae-ya dan geun-ya janji!” tegasnya lagi, bocah berumur 1 tahun sudah tahu akan kesetian dan ketulusan hati. Aku jadi iri.

“bonsai-nova,” seru Hoogeun yang masih bermain-main dengan boneka kucing yang berukuran 5 kali lipat di bandingkan tubuhnya.

“geun-ya, belum tidur?” tanyaku, yang menyudahi dongengnya

“belum oppa…” dia bangkit dari tempat tidurnya dan menatapku dalam-dalam, “hari ini oppa sangat baik pada aku dan taemin,” ucapnya

“ya sudah seharusnya dong,” lanjutku sambil tersenyum manis

“tapi oppa,” dia menyelanya

“ya tapi apa?” tanyaku, dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali berbaring di sebelah Taemin. Menutup pelupuk matanya.

Malaikat kecilku, Hoogeunku yang manis, Taeminku yang cerdas, Hoogeunku yang ceria, Taeminku yang jahil, Hoogeunku yang lucu, Taeminku yang setia. Semuanya aku dapatkan dari kedua anak kembar ini, tidak ada lagi yang aku butuhkan. Baiklah sudah saatnya menutup kedua mata lelah ini.

Tit……tit….tit…..tit!

“hah- sireo sireo!” pagi-pagi sudah ada yang membangunkan aku, ku buka kedua mata ini dengan pelan-pelan. Teriknya matahari yang menyinari kamarku ini.

10:00 pagi/ 15 Desember 2009

Nging….nging…..nging!

Bibi taenggo sudah menyiapkan makanan di atas meja makan. Bibi taenggo adalah bibi-bibi yang sering menyediakan kami makanan. Dia dan suaminya, Paman Racoon tidak memiliki anak. Jadilah mereka menganggap aku yang dari kecil sudah di tinggal oleh kedua orang tuaku ini sebagai anak kandung mereka.

“pagi jinki,” sapa ramah Bibi taenggo, yang sedang menganduk-ngaduk sup hangat di panci.

“pagi bibi,” aku duduk dan menyeduh teh hangatku, udara di kota sangat dingin. Untunglah aku sudah memakai beberapa sweater tebal ketika tidur tadi.

“ckckck- jinki,” tegur Paman Racoon yang baru balik mengambil susu di kantin

“ya paman?” jawabku

“baru bangun jam segini? Ckckkck-” ucapnya, dia duduk di sebelahku dan menyodorkan beberapa botol susu ke bibi taenggo.

“yah paman, hari inikan libur!” jawabku

“selasa kau bilang libur? Yaampun…!” sela Paman

“yah cuti sehari dong paman, dingin!” alasanku

“sudahlah Ayah, biarkan jinki istirahat seharian ini,” bela bibi taenggo

“yahh….!” Pamanpun tidak bisa berkata apa-apa lagi

“jinki?” panggil bibi

“ne?”

“adik-adikmu dimana?” tanya bibi yang sedang menuangkan susu di teh miliknya Paman

“mereka mungkin masih tidur,” tebakku

“oh, pasti kecapean!” ucap bibi, aku terdiam sejenak mencerna kata-kata bibi

“errr- maksud bibi apa?” tanyaku

“yaampun jinki, kemarin seharian penuh mereka menjual susu dagangannya Paman loh! Sangat hebat, kuat, cepat, apalagi si Taemin! Huh- semangatnya patut diacungkan jempol deh,” cerita Paman antusias

“mwo?” aku terkaget

“mereka bekerja seperti itu katanya untukmu,” jawab bibi sambil berkacak pinggang

“mwo? Aku tidak mengerti,” aku masih belum mengerti, sama sekali belum

“ya mereka memohon-mohon untuk membantu Ayah bekerja, dan Tuan Siwon membolehkan mereka, mereka di upah juga, lumayan!” jelas bibi

“iya, dan aku tanya uang itu digunakan untuk apa, mereka jawab,” paman Racoon berhenti sejenak dan membuka lagi mulutnya :

“uangnya untuk beli martabak strawberry dan sasimi ya?” tanyaku

“aniya Paman!” bantah Taemin sambil menyimpan uang itu di saku sweaternya

“ini untuk op-” sebelum Hoogeun melanjutkan, Taemin sudah membekap mulutnya

“ya…siapa?” tanyaku lagi

“uang ini untuk di belikan sepeda baru untuk jinki hyung..” bangga Taemin

“yap….untuk jinki oppa!” sambung Hoogeun


“errr—benarkah?” tanyaku agak sedikit ragu dengan mereka

“ya, aku tahu Tuan Yunow menjual sepeda-sepeda bagus di seberang toko bibi Sica,” cerita Taemin

“dan setiap kami melewati jalanan itu, mata oppa selalu menatap ingin memiliki sepeda yang menggantung di atas toko itu, kami tahu karena kami juga waktu itu punya pandangan yang sama seperti itu ketika melihat martabak strawberry dan sasimi,” lanjut Hoogeun

“oh- besok ulang tahunnya jinki ya?” tebakku ragu

“ne,” jawab mereka serempak

“nah, kalau begitu pakailah ini untuk membeli kue ulang tahunnya,” ucapku seraya memeberikan beberapa won kepada mereka, mereka menolak

“aniya, ini bukan uang kami paman!” tolak Hoogeun lembut

“ini bukan hasil jerih payah kami, ini uang paman!” sambung Taemin

“tapi, ulang tahun tanpa cake tidak afdol bukan?” ajuku ,”baiklah, anggap ini adalah sebagai hadiah aku untuk Jinki, ottoke?” tawarku, dan mereka mengangguk setuju

Paman tersenyum pulas setelah menyelesaikan ceritanya. Bibi sudah duduk berbarengan di antara kami berdua.

“adik-adikmu sungguh mulia dan cerdas,” bangga Bibi

“sepeda?” ulangku tidak percaya, aku langsung bergegas keluar rumah dan menemukan sebuah sepeda ontel yang bertengker manis di antara pohon-pohon cerry.

SAENGIL CHUKAE HAMNIDA JINKI HYUNG/OPPA

Sebuah kalimat yang manis terukir di atas kertas putih yang menempel lekat di sepedanya. Beberapa pita-pita gulung berwarna oranye indah menghiasinya. Mereka tahu benar aku sudah lama mendambakan sepeda ini, sepeda yang akan ku rencanakan tahun depan untuk membelinya. Sepeda yang memang ingin ku gunakan untuk berjalan-jalan keliling-keliling kota bersama mereka. Kini ku tatap baik-baik tulisan itu, siapa yang mengajari mereka menulis?

“saranghae namyodongsaeng!” ucapku sambil menggengam erat stang sepeda itu.

Tit….tit….tit….tittttttttttttt!!! beker itu lagi berbunyi.

10:00/ 14 Desember 2010

“ah, saengil chukae jinki!” ucapku sambil bangkit dari tempat tidurku.

Mimpi sepeda ontel itu lagi, hohohoo- benar-benar aku menginginkan sepeda itu. Benar-benar, tahun lalu aku sudah memilikinya tapi tidak. Itu tahun lalu, tahun ini aku menginginkan kekasih dan tentu saja….

“jinki………” panggil bibi taenggo

“ne bibi, tunggu sebentar!” jawabku, aku menatap kearah pandang jendela. Sudah ada Paman Racoon yang tengah sibuk mengangkat semua susu-susu pesanannya untuk di jual ke kota.

Aku menatap sebuah foto frame, senyuman itu tidak akan aku lupakan. Aku membuka knop pintu kamarku dan mendapati bibi taenggo dan seorang gadis yang sedang memelototi kue ulang tahun.

“saengil chukae jinki,” ucap mereka berbarengan

“kamsahamnida!” balasku sambil tersenyum lemah, aku duduk diantara mereka berdua

“sekarang umurmu sudah 21 tahun jinki, jangan suka berkhayal-khayal lagi,” ingat bibi taenggo, aku hanya tersenyum lemah membalas ceramahannya

(chaerin)

“jinki, happy birthday!” ucap gadis yang berada disebelahku ini

“kamsahamnida!” jawabku pelan

“eh iya, kenalkan.” Seru bibi heboh ,”ini keponakan bibi, Kim Chaerin!”

“annyeong oppa!” sapa manis gadis itu, aku hanya tersenyum saja

“bibi, apakah taemin dan hoogeun sudah pulang?” tanyaku tiba-tiba

“siapa mereka oppa?” tanya Chaerin penasaran

“mereka adik-adikku yang hebat, kau mau bertemu dengannya?” tanyaku antusias

“hah- jangan dengarkan cerita konyolnya caherin-ah!” sela bibi

“wae?” tanya Chaerin

“dia selalu bermimpi tentang adik-adiknya itu,” cerita bibi

“bermimpi? Emangnya, kemana adik-adiknya pergi?” tanya Chaerin antusias

“pergi dalam alam mimpinya, aduhhh!” bibi langsung berkacak pinggang ,”tidakkah kau tahu? Taemin dan Hoogeun yang dia sebuti itu adalah hal yang tidak nyata, tidak ada sama sekali di dunia ini, dia hanya mengarangnya saja,” jelas bibi

“tidak, aku tidak mengarangnya,” bantahku

“ohya? Apa buktinya kalau begitu?” tantang bibi

“itu, sepeda itu?” tunjukku kepada sepeda yang berada diluar rumah

“itu sepedamu, dan Ayah membelikanmu setahun yang lalu, masih belum mencernanya jinki?” tanya bibi agak menekankan

“tidak tidak, selama 4 tahun aku merawat mereka, dan itu begitu nyata. Bibi bohong! Aku tahu mereka ada,” berontakku

“tidak ada jinki, mereka tidak ada!” sela bibi yang agak sedih melihat kekecewaanku yang sudah lama ini

Setahun berlalu, mereka menghilang setelah aku mendapati satu sepeda ontel yang indah, yang selalu aku idam-idamkan. Taemin dan Hoogeun menghilang tanpa jejak, bahkan jejak-jejak mereka di bibi taenggo dan paman Racoon pun menghilang. Mereka pergi bagaikan angin puyuh yang menghapus bersih seluruh kegundahan kota. Mereka pergi, seperti angin di musim dingin yang berlalu di musim semi.

“mereka tidak ada jinki,” ulang bibi menangis karena sedih

“tidak! Kalian bohong! PEMBOHONG!” bentakku, aku sudah tidak tahan lagi. Adik-adikku, dimana kalian wahai insanku? Aku sangat merindukan kalian.

Aku ingin di hari kelahiranku ini, yang mengucapkan kata-kata ‘saengil chukae’ untuk pertama kalinya adalah kalian berdua. Sekarang kalian dimana? Aku hanya butuh kalian.

Bruk- mata ini tidak melihat jalanan. Aku seperti orang gila yang berlari-lari dari kenyataan yang pahit. Tak ku sadari di depanku ada sebuah mobil yang melaju kencang dan aku menabraknya seperti ingin mau mati saja. Yah, aku ingin mati.

Bisik-bisik terdengar, dan seseorang dari mobil itu keluar melihat keadaanku yang setengah menyadari kejadian tadi.

“ahjossi…..gwaenchana?” tanya seorang lelaki berwajah manis kepadaku, aku hanya tersenyum bahagia.

“ada apa pa?” tanya wanita yang baru saja keluar dari dalam mobil itu, “huwaaa!! Kita menabrak seseorang,” seru wanita itu panic

“gwaen…..wae…c..ha…hanaya..a!” balasku yang mengeluarkan buih-buih darah

“umma? Appa?” panggil kedua suara kecil yang sangat aku hapal sekali si pemiliknya

“ah- jagi,” ucap wanita itu, dan 2 pasang kaki mini turun dari dalam mobil. Mereka memakai sweater tebal yang warnanya sama, kembar.

“umma-sun! orang ini kenapa?” tanya anak lelakinya yang berambut jamur

(hoogeun,umma-sun, appa-sun,taemin)

“umma tidak tahu, tae-ya! Kita menabrak orang ini,” sedih wanita itu, dia menggendong anak lelakinya sedankan anak perempuannya mendekati aku.

“aan…nnye..eong!” sapaku, sementara Appa mereka tengah sibuk menelpon rumah sakit

“ah, dia masih hidup!” serunya antusias, dia membulatkan matanya. Pipinya benar-benar tembun, aku rindu pipi itu.

“hoogeun-ya!” sapaku agak dipaksa, dan mengeluarkan buih-buih darah lagi

“omona!” kagetnya, dan wanita berambut blonde itu langsung mendekatiku beserta anak lelaki yang digendongnya itu.

“kenapa geun-ya?” tanyanya

“umma-sun, dia tahu namaku,” ucap Hoogeun

“uwaahh,” seru Taemin antusias sekali, aku tahu anak itu selalu seperti itu

“umma-sun, aku mau lihat orang itu lebih dekat,” pintanya, dan sang Umma-nya pun menurunkan Taemin. Dia mendekatiku, menatapiku dalam-dalam

“taemin-ya!” aku paksa lagi untuk berbicara dengan lancer

“ah-” kejut Taemin atas reaksiku, “apa kami mengenalmu tuan?” tanyanya

“n..ne.” jawabku

“aku juga?” tanya Hoogeun tidak mau kalah

“n..ne.” jawabku lagi

“umma, sebentar lagi ambulansnya datang,” ucap lelaki manis itu kepada istrinya

“tau darimana?” tanya mereka berbarengan

“karena kalian adalah adik-adikku, uhukkkk…hoekk..” aku terbatuk lagi, dan kali ini rasanya kepalaku berputar-putar tidak karuan. Penerangan penglihatanku sudah agak samar-samar.

Mereka membulatkan mata mereka dan tersenyum manis. Aku kenal senyuman ini, aku kenal. Mereka benar-benar Hoogeun dan Taeminku.

“hyung(oppa) saranghae, saengil chukae!!!” kata-kata itu yang ingin aku dengar. Terimakasih.

Author POV

“YA!!!! AHJOSSI?” teriak si kembar sambil menangis meraung-raung. Jinki meninggal dalam hitungan detik setelah mereka tersenyum. Dan ambulans pun datang membawa jasadnya ke rumah sakit.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

bagaimana? hahahhaha tidak kalah serunya kan dari ffnya si chingu ima. hohohooo-

hayooo hayoooooo RCL yah. hahahahhaaa ahh membahas 9zena lg. aduh thata lg gak ada ide buatnya /DUAGH

okeh deh, thata say gudbubeiiiii. muachhh~ (?)

Single Post Navigation

Satu pemikiran pada “They’re My saengi [oneshoot] for onyu’s birthday

  1. Ping-balik: behind the scene | Little Prince

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 518 pengikut lainnya.