[oneshoot] the RECIPE
title : the RECIPE
author : Thata
Cast : Choi Jineul a.k.a thata, Choi Jiri a.k.a YOU or someone special for me
Lee Jungshin CN Blue, Cho Kyuhyun Super Junior
Genre : Romance, Family
Lenght : Short Story
Rating : Generla
Disclaimer : tokoh-tokohnya punya saya semua/plak
A/N : ceritanya terinspirasi dari ceritanya Fai, tau tentang apa? yang pasti baca aja. hahaa
NB : nah seperti biasanya Choi Jineul itu kita anggap saja Lee Soonkyu yah, sudah kodratnya sih saya suka Sunny/plak
THIS IS NOT FOR SIDERS, THIS IS JUST FOR GOODTHAS
Cerita ini ku persembahkan untuk seluruh Kakak perempuan yang berada di Dunia, kami adik-adikmu sangat mencintaimu
‘Wake up!’
“Huh huh huh huh huh,”
“Ada apa denganku?” setitik cahaya terang menyembul ingin keluar dari balik gorden-gorden biru, yang bertengker manis di jendela kamarku.
“Baiklah, coba aku lupakan,” kepala ini rasanya terlalu berat untuk menampung beban yang selama ini ku fikirkan, mataku berair dan aku segera menoleh ke samping, tepat dimana meja lampuku berada.
“Ah! 8 febuari, ck-” umpatku kesal, hari ini adalah hari dimana yang sangat penting bagi diriku, buktinya di kalender aku membulatkan tanggal 8 itu dengan bolpen berwarna merah, itu tanda special buatku.
Walaupun aku tidak jago memasak, apalagi membuat coklat tapi untuk hari ini akan aku berjuang untuk membuat satu coklat yang istimewa. Seingatku Ibu pernah menyimpan buku resep membuat coklat enak di lemari.
“Bu!!!” panggilku dari kamar
Tidak ada sahutan darinya, mungkin Ibu masih terjaga dalam tidurnya. Baiklah Jineul, saatnya kau bangkit dari tempat tidurmu dan bergegas turun ke dapur untuk mencari buku itu.
Kata teman-temanku, wajahku tidak mirip dengan Ibu apalagi Ayah. Itu membuat hatiku ciut sih, tapi mereka bilang aku mirip dengan Kakakku, Jiri. Itu lebih baik daripada tidak mirip sama siapapun.
“Dimana ya?” aku mencari-cari buku resep itu, ternyata Ibu menyimpan semua buku resep makanannya di lemari. Mungkin aku tidak pernah tahu hobby Ibu jika tidak sekarang, karena Ibu maniak buku resep. Di dalam lemari ada berpuluh-puluh buku resep masakan, dan itu membuatku bingung setengah mati.
“aish- ck!” aku salah memilih buku lagi, buku resep membuat Es buah, siapa yang mau membuat Es Buah? Aku kan mau membuat coklat enak.
“Jineul!!” gotcha, itu suara Ibu, lebih baik aku menanyakan buku itu kepadanya
“Ibu! Aku disini,” sahutku, sambil merapikan beberapa debu di piyama pink-ku.
Sosok yang masih berparas cantik itu muncul dari kebun belakang rumah, dia tampak menggotong sekeranjang strawberry yang segar. Aku suka strawberry. Dia mendekatiku, dan melihat ke bawah, dimana lemari berharganya aku bongkar.
“Kau mencari apa?” tanya Ibu penasaran, aku tahu Ibu sangat jenius.
“Aku cari buku,” jawabku sambil berjongkok di hadapannya, dan kembali melirik keadaan lemari itu, tak terbayangkan berapa banyak jumlah buku-buku itu.
“Kau mau belajar memasak Ji?” tanya Ibu yang juga ikut berjongkok di sebelahku
“Ya, aku kan ingin bisa memasak seperti kak Jiri,” sahutku, wajahnya yang masih segar itu, cantik dan juga menawan tiba-tiba mengeruh bagaikan air di pipa.
“Hah! Siapa lagi ini?” tanya Ibu yang sudah berdiri, mencuci buah Strawberry yang barusan ia petik tadi
“Maksud Ibu apa?” terkadang Ibu sangking jeniusnya, selalu merangkai kata-kata yang membuatku bingung
“Kau sedang suka sama siapa?” tanya Ibu sambil menyipitkan matanya
“Kyuhyun sunbae?” ulangku, nama ini selalu aku lontarkan dengan Ibu, bahkan Ibu juga sudah tahu bahwa Kyuhyun sunbae itu adalah Hobaenya Kak Jiri.
“Ck, si anak nakal itu?” kata Ibu, dia selalu bilang kalau Kyuhyun sunbae tidak baik untukku, tidak akan setara denganku, tidak jodoh denganku karena Kyuhyun sunbae hanya untuk Kak Jiri.
“Kenapa sih Ibu memanggilnya dengan ‘si anak nakal itu?’ dia punya nama,” kesalku, kembali aku mencari buku resep itu, semakin cepat menemukan bukunya semakin cepat pula aku memberikan coklatnya kepada dia.
“Bukan begitu, dia memang nakal, selalu mencolong buah strawberry-ku,” omel Ibu, Kyuhyun Sunbae adalah tetanggaku, teman masa kecilku dan Kak Jiri, dan kebiasaan terburuknya adalah mencolong buah-buah strawberry-nya Ibu.
“Itukan waktu kecil bu, hah-” aku meraih sesuatu yang sangat aku kenal, yah ini dia buku yang aku cari-cari selama ini. selama 2 tahun belakangan ini, sampulnya berwarna merah tua yang sudah usang, ada gambar hati di sampulnya dan ukiran dari balok emas untuk judulnya ‘when a love make a chocolate’
“Itu bukannya punya Ri-ah?” tanya Ibu, aku hanya tersenyum saja kepada Ibu
“Lebih baik aku membacanya di kamar saja ya,” pamitku, Ibu tidak menggubrisnya. Aku segera membopong setoples strawberry yang sudah diolah menjadi manisan di dalam kulkas, aku ingin membaca bahan-bahan yang akan ku gunakan untuk membuat coklat enak itu.
Ini adalah resep kebanggaan ku
, dengan bahan-bahan yang sederhana dan ekonomis, dan juga rasa yang tak kalah enaknya dengan coklat-coklat di toko.
Bahan:
Sponge:
50 g bubuk coklat
100 g tepung terigu
40 g tepung maizena
5 butir telur ayam
62,5 g air
62,5 g cake emulsifier
165 g mentega tawar, lelehkan
Ganache:
500 g Dark Couveture Chocolate, potong-potong
500 g Milk Couverture Chocolate, potong-potong
500 g krim kental
Ini dia yang tidak aku mengerti, kenapa harus ada tepung maizena? Cake emulsifier? Dan juga berbagai macam jenis Couveture Chocolate? Untunglah Kak Jiri selalu membuat keterangan yang jelas di setiap resepnya.
Nb: bahan-bahannya bisa dibeli secara mudah di toko-toko kue, dan lagi aku sarankan, jangan membelinya di supermarket karena harganya lebih mahal, sebaiknya ke pasar tradisional saja selain lebih enak dan juga ekonomis, ingat? Kue yang akan anda buat ini harus ekonomis,kan?
Yah, Kak Jiri membuat buku resep ini dengan tulisan tangannya sendiri tanpa mengetik sama sekali. Dia sangat menyukai buku ini, dan dia juga sangat berbaik hati meminjamkannya sama siapa saja, termasuk aku yang tidak bisa memasak ini.
“Hah, aku malas ke pasar,” keluhku, aku meronggoh saku piyama pink-ku, apa Jungshin bisa mengantariku untuk berbelanja? Jawabannya harus YA.
Tut…..tut……tut…
“Kemana sih ni manusia?” umpatku, terlalu lama bagi seorang Jungshin untuk mengangkat teleponku.
‘Reject’
Tut…..tut…..tut…aku mencobanya sekali lagi
“Hallo,” sapa suaranya
“Hallo Jung, kemana aja sih?” tanyaku sebal
“Oh mian Ji, aku baru bangun tidur,” jawabnya
“Bisa menemaniku ke pasar?” kataku sambil membalik-balikkan halaman buku resep usang itu
“Jam 9 pagi,” katanya ngigau
“Ya kenapa kalau jam 9 pagi?” tanyaku kesal
“Gila, aku belum mandi, belum sarapan, apalagi mempertampan diri,” cerocosnya
“Aku juga belum, tapi kata Ibuku, kalau mau mendapat barang-barang yang murah itu ya harus di pagi-pagi begini,” jelasku, dia diam tidak menjawab
“Pokoknya aku tunggu jam 10 yah, kalau gak muncul-muncul juga berarti kita putus,”
Tut…tut….tut…aku memutuskan sambungan teleponnya.
Lee Jungshin, dia pacarku yang sangat tinggi dan juga merepotkan. Sesekali, dia harus ku repotkan. Sebaiknya aku harus bergegas mandi, karena aku yakin kalau Jungshin akan menjemputku tepat pukul 10 nanti.
>>love<<
Teng-
“Jineul!!!” panggil Ibu, aku baru selesai memakai bedak
“Ya, tunggu sebentar,” sahutku, aku segera bergegas merapikan rambutku. Jungshin memang tepat waktu, untung saja aku sudah selesai berdandan.
Sebaiknya, aku juga membawa buku resep ini. ah- tanpa buku ini, mungkin untuk ke tiga kalinya aku gagal memberikan coklat ini kepada dia.
“Ji, lama sekali,” omel Ibu yang sedang asik bercakap-cakap dengan seseorang
“Ji-ah, rapi sekali,” sapanya sambil tersenyum manis, sudah lama aku tidak melihatnya.
“Kyuhyun sunbae!” panggilku kaget, dia tersenyum lagi
“Hari ini kakakmu berulang tahun,” katanya, dia meronggoh-ronggoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak kecil yang dibungkus cantik di kertas kado warna biru ,”tolong berikan hadiah ini kepadanya,” katanya sambil tersenyum tipis
“Kenapa aku?” tanyaku bingung, aku melirik Ibu, dia hanya berwajah miris
“Karena kau adalah adiknya,” jawabnya sedikit tercekat tapi tetap tersenyum manis
“Lebih baik kau berikan hadiah itu langsung kepadanya, kepada Kak Jiri,” ucapku, aku tidak mau menangisi dia lagi. Aku sudah punya Jungshin, dia lebih baik dari apapun di dunia ini.
“Ji, terima saja, berikan itu kepada kakakmu,” ikut Ibu, aku menolehnya tetapi dia tidak menatapku, malah mengeluarkan air mata
“Tidak mau, berikan saja sendiri kepadanya,” bentakku, Kyuhyun sunbae sangat terkejut mendengar kata-kataku
“Aku…” dia memegang pundakku, aku menepisnya ,”aku takut dia tidak mau menerimanya,” lanjutnya
“Berarti kau pecundang,” semburku, tepat saat itu Jungshin datang
“Ji!” panggilnya di depan pintu masuk, aku segera berlari kearahnya dan mengajaknya untuk segera pergi dari tempat itu, sangat menyakitkan
Cho Kyuhyun, dia pria yang sangat manis, baik hati dan juga cerdas. Dia memiliki kebiasaan buruk yaitu mencuri buah-buah strawberry-nya Ibu di kala SD dulu. dia berteman baik denganku dan juga Kak Jiri, kami tumbuh dewasa bersama-sama sejak dulu, mengerti satu sama yang lain. Aku jatuh cinta padanya, Kak Jiri tahu itu dan dia berniat untuk menjodohkan Kyuhyun sunbae kepadaku, tapi pahit sekali ketika mengetahui bahwa Kyuhyun sunbae lebih menyukai Kak Jiri daripadaku. Kyuhyun sunbae meminta maaf kepadaku, dan Kak Jiri sangat menyesal ketika mengetahui hal itu. Munafik, padahal aku tahu, kalau Kak Jiri juga menyukai Kyuhyun sunbae.
“Kau masih sedih Ji?” tanya Jungshin, aku mengapus air mataku yang tiba-tiba saja terjatuh, dan melihat nanar kearahnya
“Tidak, aku hanya merasa bodoh telah mecintai manusia pecundang itu,” jawabku sambil tersenyum miris
“Dulu kau memang bodoh, tapi sekarang tidak karena memilihku,” katanya bangga
“Hah, kau dulu juga bodoh,” balasku sambil menjulurkan lidah
“Aniya, kau lebih bodoh dulu daripada aku,” selanya sambil tersenyum nakal
“Bodohan dirimu, ingin mati karena Nana sudah punya pacar baru, hahahhaa!” ejekku
“Ohya? Siapa yang lebih bodoh? Menangisi seseorang yang berharga baginya yang direbut oleh kakak kandung sendiri? Itukan lebih bodoh,” katanya sambil mencubit pipiku
“Kau yang lebih bodoh, ih ih,” balasku sambil mencubit pipinya
“Iiih, kau yang lebih bodoh Ji,” balasnya lagi
Lee Jungshin, lagi-lagi dia menghapus semua memoryku yang pahit tentang Kyuhyun sunbae. Dia orang yang satu-satunya, yang bisa menyembuhkan ku dari luka pahit ini. dia datang bagaikan hujan gerimis yang menyapu semua kekeringan di hatiku.
Tapi, saat ini aku memiliki satu gemuruh lagi. Dan aku hanya membutuhkan sesuatu yang selama ini ku hindari untuk menghilangkan gemuruhnya. Aku yakin, buku ini dapat membantuku untuk membuat coklat enak.
“Telurnya berapa Ji?” tanya Jungshin, aku menoleh kearahnya
“5 butir, terus jangan lupa menteganya yang 160 gram, hem sama bubuk coklat cocoanya yah, dear!” jawabku sambil tersenyum
“Tumben panggil dear, hihiiii” senyumnya
“Iya deh Jung,” sahutku sebal, aku kembali mencari bahan-bahan yang lainnya
“Ahjoma! Aku minta diskon boleh gak?” pinta Jungshin
“Diskon? Diskon apa?” tanya sang Ahjoma
“Aku beli 5 telur gratis 5 telur juga, gimana?” tawarnya, sang Ahjoma bingung
“Wah, aku rugi besar dong,” sahut sang Ahjoma
“Tidak, kalau bisnis ini berjalan dengan baik, Ahjoma akan mendapat banyak pelanggan yang setia loh,” aju Jungshin bersemangat
“Masa?” ragu Ahjoma
“Aish, mianhaeyo Ahjoma, jangan dengarkan si bodoh ini, dia agak sedikit gila,” pamitku kepada Ahjoma, aku segera membawa Jungshin pergi dari toko itu
Tik..tik….tik………
Ah hujan, pagi ini hujan mengguyur kota Gwangju. Jungshin membuka jaket tebalnya dan menaruhnya di atas kepalaku. Aku menoleh kearahnya, dia hanya tersenyum saja.
“Kau bisa sakit Ji,” ucapnya, kepalanya terkena hujan dan aku segera membuka jaket pink-ku dan menaruhnya diatas kepalanya Jungshin.
“Kau juga bisa sakit Jung,” ucapku, dia tersenyum lagi
Kami berteduh di toko bunga seberang, Jungshin sebenarnya sangat lemah jika terkena hujan. Dia akan demam atau tidak dia terkena…
“Huacimm!!” gotcha, dia terkena flu yang parah, hidungnya memerah
“Gwaenchana?” tanyaku sambil mengambil sapu tangan didalam tas
“Aishh, aku tidak apa-apa Ji, kau ini,” selanya sambil menyumbatkan sapu tanganku di hidungnya yang sudah memerah
“Ck, selalu merepotkan saja,” keluhku sambil melipat kedua tangan
“Ah, mian!” pintanya sambil memelukku, hangat, tubuhnya langsung demam mendadak
“Kau demam Jung?” tanyaku khawatir, dia menggeleng-gelengkan kepalanya
“Mana mungkin aku demam,” kilahnya sambil mempererat pelukannya
“Yah, kalau begitu kau tunggu disini, biar aku saja yang mencari bahan-bahan itu,” ajuku sambil melilitkan tubuhnya dengan jaket tebalnya tadi. Dia langsung menggeleng-gelegkan kepalanya
“Aniya, aku ingin ikut,” dia membuka lilitan jaketnya
“YA! Aku tidak perlu bantuanmu,” bentakku sambil meninggalkannya sendirian
Ini kejam, aku tahu itu bukan salahnya, dia memang memiliki tubuh yang sangat lemah. Sekali kena tetesan hujan saja sudah jatuh demam parah, kenapa tadi aku membawanya? Merepotkan saja.
“Ck, Jung bodoh!” umpatku yang sedang menerobos hujan
Satu bahan lagi, Couveture Chocolate, biasanya Kak Jiri membeli Couveture Chocolate di toko punya Bibi Narsha. Seingatku, toko Bibi Narsha terletak di ujung pasar, di sampingnya ada toko Susu dan juga cabai giling.
“Huh huh huh huh,” nafasku tidak beraturan, aku berhenti, membiarkan hujan kini mengguyur tubuhku dengan leluasa
“Dimana ya?” aku bingung, dua toko itu tampak terlihat sama persis, aku memilih yang kanan, karena kanan selalu menjadi pilihan keberuntungan Kak Jiri.
Kring-
Suasana dalam toko itu hangat, lampunya terbuat dari lampion lilin berwarna biru. Beberapa pelanggan melihatku dengan wajah yang kaget, karena aku basah kuyup.
“Aigo!” kaget seorang Ahjoma muda yang memakai celemek kuning, dia menghampiriku sambil menggengam satu handuk bersih
“Ah kamsahamnida Ahjoma,” ucapku
“Ck, Aigo Aigo!” serunya lagi sambil membantu mengeringkan rambutku
“APA anda Bibi Narsha?” tanyaku, sekilas wajahnya terkaget-kaget
“Aigo! Tidak,” jawabnya khas dengan logat Aigo-nya itu
“Jadi?” aku melihat kesekeliling ruangan toko itu, terdapat banyak koleksi-koleksi coklat hitam yang berbentuk unik, ada yang didalam toples dan ada juga yang di pajang begitu saja dengan alas piring putih bundar.
“Aigo! Aku anaknya dari Bibi Narsha, dia sudah lama meninggal, tepat 2 tahun yang lalu, sekarang usahanya aku yang melanjutkan, Aigo!” jelasnya sambil melipat kedua tangannya
“Omona! Jadi Bibi Narsha sudah meninggal?” kagetku, Bibi Narsha adalah seorang Bibi yang sangat disayangi oleh Kak Jiri. Kasihan sekali Kak Jiri, dia pasti tidak bisa bertemu dengan Bibi Narsha lagi.
“Ya, ya, Aigo! Jadi kau mau membeli Couveture Chocolate ya?” tanyanya
“Yah, aku ingin membuat kue coklat Ahjoma,” jawabku sambil meronggoh isi tasku, dan menyodorkan buku resep Kak Jiri kepada Ahjoma itu
“Hemm, kau seperti seseorang yang selalu diceritai Mamaku,” ingatnya, dia melihat daftar list bahan-bahannya, dan dalam sekejap dia sibuk mencari-cari bahan itu
Aku di persilahkankan duduk oleh salah satu karyawannya, anak lelaki yang cukup manis dengan dasi pita hitam yang ia pakai.
“Silahkan minum tea-nya,” ucapnya sambil menyodorkan secangkir tea hijau hangat kepadaku
“Kamsahamnida,” ucapku kapadanya, dia hanya tersenyum simpul
“Siwoni, coba kau masuk ke dalam gudang, Aigo!” pinta Ahjoma itu kepada anak lelaki tadi
“Ne Omma,” jawabnya yang bergegas ke gudang, tepat berada diluar toko itu. Dia membawa payung.
“Aigo, jadi kau ingin membuatkan coklat untuk siapa?” tanya Ahjoma itu yang membungkus beberapa bahan yang ia temukan di lemarinya
“Untuk seseorang yang special,” jawabku sambil menyunggingkan sebuah senyuman
“Nah dear, semuanya ada di dalam kantung ini, aku yakin kau pasti bisa membuat kue coklat itu dengan enak, Aigo!” ucapnya, tiba-tiba anak lelaki itu masuk ke dalam toko dengan setengah basah kuyup
“Omma, Couveture Chocolate-nya tinggal dua batang lagi,” jawab anak lelaki itu sambil menggengam dua bongkah coklat berwarna vanilla dan berwarna hitam kecoklatan.
“Aigo! Berikan sajalah, toh kita memang lagi cuci gudangkan?” ucap Ahjoma sambil mengambil dua bongkah coklat itu, dan memasukkannya ke dalam kantung
“Tapi….” Dia mengeluh, dan sang Ahjoma menggertaknya sedikit
“Yah, sudah terkumpul semuanya,” ucap Ahjoma, dia memberikan kantung yang berisi bahan-bahan itu kepadaku
“Berapa semuanya?” tanyaku sambil meronggoh dompet didalam tasku
“Itu gratis,” jawabnya, dan anak lelaki itu terkejut bukan main
“Omma!” panggilnya
“Aigo! Siwoni, dia lebih berhak mendapatkannya daripadamu,” jawab sang Ahjoma keras, anak lelaki bernama Siwoni itu menangis dan keluar dari toko
“Ah Ahjoma, ada apa?“ tanyaku khawatir, dia hanya memandangku dengan sinis
“Tidak apa-apa,” jawabnya sinis
Sebaiknya aku bergegas pulang, Jungshin sudah menungguku cukup lama, jam 1 pas. Ah, ku harap Jungshin tidak mengeluh kalau aku terlambat beberapa jam. Hujan sudah meredam, jalanan pasar tergenangi air berlumpur. Aku harus hati-hati melangkah kalau tidak, seciprat genangan itu akan mengotori bajuku.
Kecipak-
“Arghhh!!” bajuku kotor, aku melihat siapa pelakunya.
“Ji, lama sekali,” kata pemuda tinggi yang sangat sehat itu, Jungshin
“Arghhh! Bajuku kotorkan?” kesalku sambil menjewer telinganya
“Auw! Auw! Mian Ji,” pintanya sambil meringgis kesakitan
“Ayoo kita pulang,” ajakku sambil menarik lengannya
>>love<<
Disini lah aku, diruangan yang salama ini ku hindari. Celemek biru, sarung tangan dan juga masker, aku sudah memakai semuanya.
“Ji! Masa aku juga ikutan memasak sih?” keluh Jungshin yang sudah dilengkapi dengan kostum yang sama persis denganku, celemek, sarung tangan dan masker.
“Hah bawel,” selaku sambil menghidupkan oven
Cara Membuat:
# Sponge Cake:
# Panaskan oven pada suhu 180 C.
# Semir loyang bundar 22 cm dengan mentega, lapisi dasarnya dengan kertas roti.
# Taruh semua bahan kecuali mentega cair dalam mangkuk blender. Kocok dengan kecepatan tinggi hingga kental.
# Tuangkan mentega cair sambil aduk hingga rata. Tuang adonan ke dalam loyang. Ratakan.
# Panggang selama 30 menit hingga matang dan kering. Diamkan sebentar.
# Keluarkan dari loyang dan dinginkan.
“Jung, kau olesi Loyang ini dengan mentega ya,” pintaku, sambil mengocok semua bahan yang ada dan meneteskan secara perlahan cairan mentega dengan kecepatan tinggi
Druttttt……druuuuutttt
“Pakai apa?” tanyanya bingung, aku menoleh dan mengambilkan kuas
“Pakai ini,” jawabku
“Oh,” dia mengambil kuasnya, dan segera memoles dinding-dinding Loyang itu dengan mentega
“Lumayan menyenangkan,” seruku masih mengocok adonannya dengan mesin
“Ji! Ji! Ji!” panggil Jungshin, dia menarik-narik lengan bajuku
“Ada apa sih?” tanyaku kesal
“Ada tikus loh,” jawabnya heboh, aku meninggalkan adonan dan melihat tikus yang dia maksud tadi
“Dimana? tidak ada,” kataku sambil mencari-cari di seluruh lemari
“Di atas itu,” tunjuknya, dan aku menoleh ke atas, gotcha! Tikus hitam yang menjijikkan sedang bergelantungan tepat di atas kepalaku.
“Gyaa,” jeritku kontan, dan mengambil sapu untuk mengusirnya
“Ji!” panggil Jungshin kalap
“Ada apa?” aku sedang mencari sapu di ruang tamu
“Dia memakan bukumu,” jeritnya semakin histeris, saat mendengar kata-kata buku, aku langsung berlari kearah dapur dan melihat kejadiannya.
“AAAAAA!!” jeritku, tikus itu melompat tepat di atas buku resep Kak Jiri, dia mengoyakkan selembar kertas dan membawanya kabur.
“Tikus kurang ajar,” aku mengejar tikus itu, karena yang Ia bawa itu adalah bagian dari cara membuat coklatnya.
Tidak mungkin aku melanjutkannya tanpa resep itu, karena aku sendiri tidak bisa memasak, apalagi Jungshin. Kalau memanggil Ibu, yang ada dia malah mengomel-ngomel tidak jelas lagi. Maka dari itu, aku mengejar tikus hitam ini, dan membunuhnya lalu aku mengambil resep itu.
“Ji! Pakai ini, aku akan menjegatnya dari depan,” kata Jungshin yang menyodorkan sebuah pisau dapur, sedangkan dia memegang spatula
“Ya,” setujuku, aku dan diapun menyebar dari sisi rumah yang berbeda
Aku mencari-cari tikus hitam yang membawa sebuah kertas, di toilet kamar, toilet Ibu, toilet Kak Jiri, bahkan di toilet belakang tidak ada sama sekali. Aku mencarinya lagi di gudang, tikus paling suka di tempat yang lembab seperti gudang.
Krik-
“Aha,” aku menemukan tikus hitam itu, tapi dia buru-buru lari menyelip dari kotak angin yang terhubung masuk ke dalam kamarnya Kak Jiri
“Kali ini kau tidak akan bisa lari tikus,” semangatku sambil memain-mainkan pisau dapur
Kamar Kak Jiri, tepat di sebelah kamarku. Ruangannya bau ngengat karena sudah lama tidak di pakai, dia tidak pernah kembali makanya kamar ini tidak pernah di tempati lagi. Tempat tidurnya masih sama seperti 2 tahun yang lalu, frame-frame yang menghiasi dinding kamarnya, aku sangat ingat. Dan beberapa boneka kelinci yang selalu diberikan oleh Kyuhyun sunbae, disimpan rapi di satu lemari kaca yang cantik. Aku menghampiri lemari kaca itu, salah satu bonekanya berwarna pink, aku ingat sekali. Dulu waktu umurku 10 tahun, aku ingin memiliki boneka kelinci berwarna pink dan Kyuhyun sunbae membelikannya untukku satu dan untuk Kak Jiri satu.
Krik-
Aku menoleh keasal suara, dan aku menduganya berada didalam lemari pakaian Kak Jiri. Pelan-pelan aku membukanya, dan Ya ampun.
“Kau bersarang disini rupanya, iih!” kataku geli, dia menaruh kertas curian itu tepat di atas lapisan kaos kaki usang punya Kak Jiri. Disana terdapat beberapa bayi tikus yang masih merah, meringkuk dalam kedinginan.
“Yaks!” aku mengambil kertas itu, dan segera menutup kembali pintu lemarinya
# Ganache:
# Taruh cokelat dalam mangkuk.
# Panaskan krim hingga panas tetapi tidak mendidih. Angkat.
# Tuangkan ke dalam mangkuk berisi cokelat, aduk-aduk hingga cokelat leleh dan licin.
# Biarkan hingga dingin. Simpan dalam suhu ruangan selama semalam hingga adonan kental dan dapat dioleskan.
Setelahitu aku kembali ke dapur, Jungshin sudah memasukkan adonannya kedalam oven, dan seseorang lain membantu membuat coklat batangan itu mencair.
“Jung! Kenapa ada orang ini?” tanyaku sambil melipat kedua tangan, dia menoleh
“Huh, kau terlalu lama Ji, jadi aku meminta bantuannya,” jawab Jung yang sangat ceketan sekali mengaduk-aduk coklat yang sudah mencair itu
“Tidak baik marah denganku selama 2 tahun ini,” ucapnya, dia menghampiriku dan memelukku, sudah lama kita tidak saling menyayangi satu sama lain
“Tapi bukan berarti aku mau mewakilimu untuk memberikan cincin itu kepada Kakak,” jawabku, dan dia melepaskan pelukannya
“Hahhaa, aku tahu kau sangat licik, mana mungkin aku memintamu untuk yang kedua kalinya,” katanya sombong, dia mulai mengambil Loyang yang sudah di lumuri dengan mentega
“Hahaha, Kyuhyun sunbae!” panggilku rindu, aku memeluknya dengan kuat, aku menangis, menangis untuk kebodohanku, menangis untuk ketamakanku, menangis untuk kemunafikanku, aku sangat menyayanginya, mungkin dia benar-benar cinta sejatiku.
“Hei hei hei,” relai Jungshin dengan spatulanya, dia menarik lenganku
“Ji hanya punyaku ya,” katanya sambil merangkulku, “bwwekkkk!” ejeknya
“Dia juga punyaku,” kata Kyuhyun sunbae tidak mau kalah
“Kau sudah punya Kak Jiri,” kata Jungshin sambil menjulurkan lidahnya
“Ih, siapa yang mau sama paman-paman sepertimu? Bweeek,” ejekku kepada Kyuhyun sunbae, dia mencubit pipiku, hal ini seperti dulu ketika aku bilang kalau Kyuhyun sunbae terlalu tua untukku.
“Tapi kau sukakan?” ucapnya sombong sambil berpose sok keren
“Hahhaa, itu dulu,” ejekku
“Berarti kau pernah suka dengan si Paman ganteng ini,” katanya lagi
Cho Kyuhyun 23 tahun, Kak Jiri tahun ini berumur 21 tahun, mereka terlalu tua untuk di gandrungi percintaannya. Sedangkan aku tahun ini berumur 18 tahun dan Jungshin berumur 20 tahun, kami masih terlalu dini mungkin atau aku yang terlalu dini.
“Hey melamuni apa?” kaget Jungshin, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku
“Lebih baik pekerjaan ini biar aku dan Jungshin saja yang mengerjakannya,” aju Kyuhyun sunbae yang sudah memakai celemek kepunyaannya Kak Jiri
“Eh, tidak mau!” selaku, aku juga ingin membuat coklatnya
“Lebih baik berikan kertas itu, kita akan lebih cepat mengerjakannya dibandingkan denganmu,” katanya lagi sambil memandang remeh kepadaku
“Wuuuu, tidak mau!” kataku ngambek
“Waktunya tinggal sedikit lagi!” sahut Jungshin, dia juga menyetujui rencana kalau aku tidak usah ikut campur dalam pembuatan coklat ini
“Ih, tapi akukan ingin bisa memasak,” rengekku, Kyuhyun sunbae menyipitkan matanya
“Untuk apa?” tanyanya curiga
“Yah, akukan ingin bisa memasak saja,” jawabku tak acuh dengan tatapan anehnya itu
“Lebih baik, kau mandi saja deluan!” aturnya, mengusirku dari dapur
“Aniya aniya!” bantahku
“Kalau begitu, kau sudah gagal 3 kali,” ucapnya serius, darahku berdesir
“Ah, baiklah!” setujuku, aku pergi meninggalkan dapur
>>love<<
Batu-batu ini terukir nama-nama mereka, nama-nama yang ingin dilupakan oleh setiap manusia. Angin malam menghembus lebih kencang dari pada siang hari, aku segera menyelipkan kedua tanganku ke saku jaket.
“kau sudah siap?” tanya Jungshin yang menggotong beberapa minuman
“ya, ku harap Kakak suka,” jawabku sambil menoleh ke seluruh tempat, sepi
“jadi siapa namanya?” tanya Jungshin mencari-cari di setiap dinding-dinding batu keras itu
Pletak-
“Dasar Pabo, masa kau tidak ingat nama Kakakku,” kataku, aku mencari-cari dalam kegelapan nama seorang Choi Jiri.
Sring-
Cahaya-nya mempermudah pencarianku, Kyuhyun sunbae membawa 3 lampion berwarna biru. Kenapa berwarna biru? Karena Kak Jiri sangat suka dengan warna biru.
“Ah, aku menemukannya,” jerit Jungshin yang berada di paling ujung, buru-buru aku berlari kearahnya
“Park Jihoon,” bacaku, dan aku meliriknya kesal
Plak-
“Haha, mianhe!” cengirnya
“Siapa dia?” tanyaku sambil menerangi keterangan tulisan di dinding itu
‘Park Jihoon’
‘Busan, 23 Maret 1976’
‘Gwangju, 12 Desember 2000’
“Dulu dia guru-ku di sekolah,” jawab Jungshin
“Dia meninggal karena apa?” tanyaku masih penasaran dengan orang yang bernama Park Jihoon ini
“Lucu, dia meninggal ketika melihat Suzy Bae,” kenang Jungshin, aku menyipitkan mata dan melihat keberadaannya Kyuhyun sunbae
“Eh, mau kemana Ji?” panggil Jungshin, aku menghiraukannya, aku menghampiri Kyuhyun sunbae
Aku adalah adik yang durhaka, semenjak kejadian itu aku sama sekali tidak pernah mengunjungi Kakak dan sama sekali tidak tahu dimana tempat dia di semayamkan.
“disini dia,” seru Kyuhyun sunbae, menerangi tulisan-tulisan yang mengukir sebuah nama yang selama ini ku lupakan.
‘Choi Jiri’
‘Gwangju, 10 February 1990’
‘Gwangju, 10 February 2008’
“Ah, Kakak!” sapaku, aku membungkuk sedalam-dalamnya
“Hum, baiklah dimana coklatnya?” tanya Kyuhyun sunbae, dia menyangkutkan lampion birunya tepat di sisi kanannya dinding Kak Jiri
“JUNGSHIN!” panggilku, dia segera berlri kearahku
“Ah ne!” jawabnya, dia membawa bungkusan coklatnya, dan memberikannya kepadaku
“Saengil Chukaeyo Choi Jiri,” ucap kami serempak kepada sebuah dinding nisan yang terpampang jelas frame wajahnya Kak Jiri.
“Nah Mari kita make a wish!” seru Kyuhyun sunbae, semuanya menutup mata dan membuat harapan masing-masing.
Harapanku adalah semoga Kak Jiri bisa memaafkanku, yang tidak pernah mengunjunginya, yang tak pernah bisa memaafkannya atas kejadian beberapa tahun yang lalu, yang tak pernah bisa dewasa, yang tak pernah mendengarkan kata-katanya untuk belajar memasaka dan yang tak pernah rela Kak Jiri meninggal.
“Hikss!” air mataku jatuh, dan sesuatu yang hangat menyentuh pipiku
“Kali ini kau tidak akan dihantui merasa bersalah lagi Ji,” ucap Jungshin sambil tersenyum manis
“Yah, ku rasa begitu,” sambungku, dan meniup lilin angka 21 itu secara bersamaan
“Aku berharap, aku akan menemukan wanita sepertimu di dunia ini,” ucap Kyuhyun sunbae sambil memandang bahagia kearah dinding nisan Kak Jiri
“Mana ada wanita yang seperti Kak Jiri,” selaku, dia melirikku dan tersenyum jahil
“Ada, jadi yang dihadapanku sekarang apa?” katanya membuat wajah Jungshin cemebrut
“Aku berharap, Kyuhyun sunbae memiliki pacar dan aku bersama Jiri selamanya, amin!” katanya sambil merangkulku
“Hahahaa,” tawaku
“Ih, masa kau tertawa di depan pemakaman Kak Jiri?” tanya Jungshin
“kak Jiri lebih suka kebahagian daripada kesedihan,” jawabku sambil mengerdipkan mata kepada Kak Jiri, percaya atau tidak Kak Jiri membalasnya dengan sebuah senyuman, di Frame wajahnya itu.
“Wah ada Kak Jiri,” seruku heboh
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Cerita ini saya persembahkan untuk Kakak saya Kak Valen yang sebentar lagi ulang tahun di tanggal 14 febuari
dan untuk Kakaknya Fai yang berada di alam sana
1 hal lagi, SAENGIL CHUKAEYO Choi Sooyoung, FF ini juga saya persembahkan untuk uri shikshin snsd hahaa
nah seperti biasanya, mohon kritik, saran dan kesan dan pesan (?) yah, gomawo
tunggu sebentar, siapa yang menantikan ff BOM? hahahahhaa/plak
credit recipe in google

