Little Prince

my Fa La La

Dear, sebaiknya kita berangkat deh, nanti kita terlambat loh,” suara itu menelan semua kerinduanku, aku sekarang dihadirkan dengan kenyataan, bahwa aku bersamanya

Never,” jawabku mantap, aku merangkulnya, tubuh kecilnya

Mempersembahkan: 

author : Thata
Cast : Choi Minho SHINee , Kwon Yuri & Lee Soonkyu SNSD
Genre : Romance
Lenght : Short Story
Rating : General
Song : Justin Bieber ft Boyz II men – Fa La La

A/N : Sedikit jauh berbeda dari konsep lagunya Fa La La, tapi inti-intinya sih masuk, hohoho, anggap saja Desember adalah Christmas time

NB: Khusus untuk Kwon Yuri yang berulang tahun kemarin, maaf terlambat :D

Semuanya tertata merah, putih, hijau, sesuai temanya. Christmas Time. Setiap pengunjung café tersenyum bahagia, orang-orang yang berada diluar, diatas jalanan stapak saling tertawa riang, beberapa hiburan jalanan seperti pengamen itu, membawa biola antiknya dan melantunkan lagu indah. This is Christmas Time.

Langkah kecilku meninggalkan beberapa jejak yang lumayan besar, maklum ukurannya 39 cm pria, apalagi aku seorang pria tinggi besar bermata bulat. Ringan rasanya, walaupun disini dingin, aku akan segera bertemu dengan Fa La La ku.

“Cring!!!” dering bunyi itu, ketika aku masuk ke dalam café itu, salah satu pelayan menyambutku dengan ceria, dia memakai celemek warna merah dan tanduk rusa dirambutnya

“Happy Xmas Sir, mau pesen apa?” tanyanya bersemangat, wajahnya berbentuk oval, hidungnya tidak terlalu mancung tapi bagus, bibirnya tipis dan berambut halus, halusnya bagaikan rambut bayi

“Bingung?” celotehnya, dia berkacak pinggang lalu mengambil sesuatu dibalik celemeknya yang berwarna merah itu, sebuah menu special Christmas

“Aku lupa, kita sekarang punya menu special untuk Xmas day,” ucapnya lagi, menu itu diserahkannya teat didepan mataku, sehingga itu menghalangi pandanganku

“Baiklah,” aku mengambil menu itu, dan mencoba dengan perlahan memilih menu yang tepat, tidak perlu yang berat dan juga jangan terlalu ringan

“Mau aku pilihkan?” tawarnya, dia berada dekat denganku, dia mendongak untuk melihat menu tersebut, tepat disampingku, harumnya begitu menggoda, manis seperti gula-gula Natal dan menggoda bagaikan bau mawar.

“Tentu,” jawabku, dia sibuk memilihkan pesananku, kini dengan leluasa aku bisa melihatnya dengan jarak yang sangat dekat. Matanya sangat bersinar, walaupun suasana di café ini sangat terang dengan lampu warna-warni, tetap matanya begitu bersinar, membuat semua lampu disini tiada gunanya

“Hari ini temanya Rusa ya,” celetukku, tersadar dia langsung membuat semu merah dikedua pipinya, begitu manis, seperti gula-gula

“Aku Rusa jantan,” dia membuat posenya, dengan mengepalkan semua jarinya dan berlagak seolah-olah dia Rusa jantan, dia Rusa betina menurutku

“Aku lebih suka tema bulan lalu,” gumamku, menu itu kini benar-benar membuatku tidak bisa memilih, jari-jarinya yang jenjang dan juga lembut, aku ingin menggenggamnya

“Bulan lalu?” dia berfikir sejenak, lalu seperti mendapatkan jawabannya yang benar dia mengatakan ,”Itu kan teman biasa, tema café ini,” kembali dia mencarikan menu untukku

“Iya, aku lebih suka,” balasku pelan, dia melihatku, benar-benar sangat bersinar

“Aku jelek ya pakai kostum ini?” tanyanya, sudah berapa kali aku mendatangi café ini, berbulan-bulan yang lalu, tepat sekarang adalah satu tahun, tetapi performa wajahnya yang lucu ini memang membuatnya menjadi Fa La La ku. Aku suka, bahkan cinta.

Aku menggelengkan kepalaku, dia tetap tidak percaya, aku sedikit tersenyum geli.

“Bisakah kau melayani tamu lain, selain Sir ini?” tegur salah satu Pelayan yang lewat dan melihatnya, dia pelayan yang menurutku selama berbulan-bulan ini selalu menjudge Fa La La ku. Tetapi Fa La La ku tidak pernah membalasnya.

“Ayolah Sir, aku sudah ditegur Jessica,” bisiknya, dia tidak mau Jessica mendengar perkataannya tersebut, takut diomeli lagi, dia benar-benar lucu dengan pose seperti itu

“Baiklah,” kali ini aku tidak main-main, sebenarnya aku sudah memilih pesananku tetapi karena merasa tidak puas, aku mempermainkannya lebih lama lagi

“Kalau aku memilih menu ini, bagaimana?” seruku, pesanan ini membuatku penasaran

“Kau boleh minum coffe ples cake special ditemani oleh Maid special juga, tapi hanya 15 menit saja hehehe” jawabnya, sekarang aku mengerti, belakangan aku baru sadari kalau hampir setiap meja yang tidak memiliki pasangan ditemani oleh Maids, dan mereka semua sangat cantik.

“Maidnya boleh dipilih?” tanyaku penasaran, tentu saja aku akan memilihnya

“Ya,” jawabnya ramah

“Baiklah, aku memilih ini,” aku menyudahinya, aku akan berbicara dengannya 15 menit ke depan, Fa La La ku.

“Nah, kalau begitu silahkan memilih Maidnya,” dia menyerahkan ipad kepadaku, dilayar terdapat beberpa foto maid, aku mencari-carinya wajahnya, tidak ada

“Kenapa?” tanyanya, yang melihatku kebingungan

“Tidak ada yang ku suka,” jawabku, aku melihatnya, dialah yang aku suka

“Masa?” dia kaget dan mengambil alih ipad tersebut, “Menurutku Jiyeon cantik, dan ini Yoona juga,” dia memilihkan beberapa Maid yang cantik untukku, dia lebih cantik daripada Maid-Maid itu

“Aku tidak suka mereka,” bantahku, dia benar-benar kebingungan

“Kalau begitu enggak pakai Maid dong,” tebaknya, dia setengah kesal kepadaku, ekspresi ini baru, ini yang ku tunggu-tunggu, dia sangat cantik, kenapa bukan dia?

“Boleh aku bertemu dengan Managernya?” pintaku sedikit dingin, dia benar-benar merah padam, menahan kesal denganku, aku akan menunggu ekspresi terkejutmu setelah si Manager mengijinkanku untuk menjadikan mu,Maid-ku

Dia membungkukkan badannya, berpamitan untuk memanggil Managernya. Udaranya tak lagi hangat, ketika dia dihadapanku begitu hangat. Aku harap kesempatan ini datang, berbicara lebih banyak dengannya, aku ingin tahu tentangnya, semuanya.

Seorang Pria muda dengan stelan jas Putih dan dasi merah menghampiriku, aku yakin dia adalah Managernya. Dia tersenyum ramah, aku membalasnya.

“Kau yakin, Sir?” dia tidak percaya setelah aku mengutarakan niatku tersebut, aku mengangguk pelan, wajahku serius, ini serius, kalau bukan sekarang, esok sudah tiada

“Baiklah, kalau anda merasa dia cocok,” akhirnya dia menyetujui niatku, dia berpamitan untuk memanggil Fa La La ku.

Ekspresinya biasa saja, ah padahal aku ingin melihat ekspresi terkejutnya. Ternyata menjadi Maidku tidak membuatnya merasa special. Dia malah membeku, tidak tersenyum sepanjang menemaniku. Dia dihadapanku sekarang, walaupun wajah riangnya memudar, tetapi kecantikan diwajahnya semakin mempesona ketika dia sedang diam, tidak memainkan otot-otot wajahnya, begitu sederhana.

“Kenapa harus aku?” tanyanya, dia memandangku seakan aku mempermainkannya

“Tidak boleh?” aku balik bertanya kepadanya, dia seakan mengacuhkan pertanyaan itu

“Kenapa kau selalu datang ke café ini?” dia memandangi pengamen-pengamen jalanan diluar, dia tidak antusias melihatnya, datar

“Café ini lumayan bagus,” jawabku jujur ,”Dan juga pelayanannya sangat ku suka,” aku benar-benar jujur saat ini, ketika itu, dulu sekali, setahun yang lalu, aku jatuh cinta dengan sebuah tempat, yaitu café ini.

“Pelayanannya?” tanyanya, sekarang terlihat profil wajahnya, sangat jelas, begitu dewasa, murni, tidak palsu dan juga sangat mempesona. Dia melihatku dengan tatapan hangatnya, tajam namun hangat, dia tidak seperti setahun lalu yang ku temui.

“Yah, aku selalu suka dengan pelayanannya, sangat baik dan juga ramah,”

“Lalu..” dia menaikkan satu alisnya, dia tahu kalau aku mempunyai maksud lain

“Kau sudah taukan?” kali ini aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, dia tidak bergeming tetap menatapku tajam namun hangat

“Itu hanya imageku, kau salah mendugaku,” jawabnya ringan, aku kembali dalam posisi dudukku semula, sekarang begitu jelas, dia berbeda dengan pelayan yang ku temui tadi

“Baiklah, aku salah mengiramu,” ucapku, meneguk coffenya, pahit, sebenarnya aku memesan yang manis tetapi lidahku merasakan hal yang berbeda

“Lebih baik kau mengetahui semuanya kan?” jawabnya, dia seperti ingin menangis , “Aku tau, kau seperti yang lainnya, lebih baik cepat mengetahuinya kan?”

“Ya,” jawabku pelan, dia berbeda, lebih ringan tetapi juga sangat misterius

“Aku sudah mempunyai kekasih, dan aku hanya ingin kau tahu, aku tidak menyukai orang sepertimu,” jawabnya sangat tajam, dia benar, satu tahun hanya sebentar menyimpulkannya begitu saja, nyatanya aku tidak tahu tentang dirinya sama sekali

“Begitukah?” aku menantangnya, aku ingin mengetahuinya lebih dari ini

“Ya, kenapa kau ingin aku menjadi Maid-mu?” dia balik menantangku, benar-benar orang yang menakjubkan

“Mungkin karena aku suka padamu,” aku ingin dia tahu, tetapi dengan rasa ingin tahu yang lebih, mungkinkah dia akan memaksaku?

“Sudah jelas, karena kau menyukaiku, itu sudah membuatku lebih tidak suka denganmu,” balasnya, dia benar-benar tenang, tidak memaksa dan juga berusaha untuk mengetahui lebih lanjut

“Jadi kau menduga aku seperti itu ya,” ulangku lagi, aku benar-benar tidak bisa mengatakan kepadanya bahwa aku tidak seperti yang lainnya, dia harus tahu kalau aku adalah Fa La Lanya, seperti dia adalah Fa La Laku.

“Baiklah, aku sudah selesai menemanimu,” ucapnya, dia segera bangkit dari tempat duduknya, akhirnya aku mengerti tentang dirinya, 15 menit menggali semua tentangnya, sudah mengubah imagenya dariku yang sudah-sudah. Berubah.

Dia pergi meninggalkanku, melanjutkan tugasnya. Aku berfikir dan hanya tidak mengerti. Bukan ini yang aku mau, walaupun dia bukan yang ku agungkan dari setahun yang lalu, tetapi dia tetap Fa La Laku.

Baby I hear melodies when your heart beats

Baby it sings to me like

Fa la la la la, fa la la la la

Tertera di layarnya, My Dear

“Hallo,” sapaku lembut

“Dear, aku sudah menunggumu di depan Café Deligth, Kau sudah membawa mantelmu kan? Di luar sangat dingin.. ” jawabnya, manis, renyah dan menyentuh hatiku, aku sudah terlalu lama melupakannya

“Aku selalu memakainya, Dear..” aku melihat ke sekelilingku, melihat sosok yang ingin ku lihat sekali lagi, benarkah dia nyata dimataku

“Hacih…” dia melakukan itu semua untukku

“Kau sakit Dear?” tanyaku, menutupi kepanikanku, karena dia sekarang berada tepat didepanku, Fa La La ku.

“Cuman Flu, Ya sudah Ku tungguh ya,” dia segera memutuskan teleponnya, aku tersadar, akan mimpiku dan juga kesungguhan

“Happy Xmas Sir, mau pesan apalagi?” tanya seorang Pelayan, sedangkan dia sibuk merapikan mejaku, dan tersenyum ceria melihatku, berbeda, palsu

“Aku minta hot chocolate, untuk dibawa pulang,” ucapku, Pelayan itu mencatat semuanya dan membungkuk sopan kedapaku, dan aku mengangguk ya

“Sir, seharusnya kau datang bersama pacarmu,” dia mengagetkanku, suaranya yang ceria kali ini membuatku ingin menangis, dia benar-benar berbeda dengan yang tadi

“Aku datang kesini karena ingin melihatmu,” jawabku, mungkin dengan kepribadiannya yang sekarang ini, aku bisa dengan leluasa menceritakan semuanya, karena aku jatuh cinta dengan perannya sebagai Pelayan yang sangat ramah dan cantik

“Melihatku? OMO, aku tidak pantas untuk dilihat hehe,” tawanya ringan, dia sudah selesai mengambil cangkir-cangkir kotorku,

“Kau pantas, sangat pantas,” jawabku, dia membungkukkan badannya untuk pamit membawa cangkir-caangkir kotorku, aku hanya ingin dia tahu satu hal

“Kau tahu….” Aku memberhentikan nafasku, dan menghirupnya lagi, aku yakin karena aku sudah memegang tangannya untuk berhenti sebentar

“Yuri, 1 tahun itu tidak lama,” ucapku, dia menoleh melihatku, wajah berbeda itu lagi, kali ini aku yakin hanya mencintainya sebagai peran Pelayan café ini

“Terima Kasih,” ucapnya, dia berpamitan lagi untuk ke belakang, dan aku sudah melepaskannya, dia juga sudah melepaskan semuanya, ini hari terburukku, kalau tidak sekarang kapan lagi? Begitu,

Untuk sekali lagi, aku melihat ke sekitarku, café ini sudah penuh sesak dengan pelanggannya, aku segera beranjak ke kasir dan ingin menuntaskan semuanya. Kebetulan Kasirnya adalah Jessica, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi gugup.

“Semuanya dengan ini?” ulangnya, memegang kartu atmku, memastikan kepercayaanku, aku mengangguk ya

“Silahkan tanda tangan disini,” ucapnya, menyerahkan selembar kertas untuk ku tanda tagani, kali ini aku yakin ini pilihan terbaikku

“Yap, Terima Kasih …” dia membaca sebentar tulisan itu dan kembali melihatku ,”Tuan Choi Minho, semoga pelayanannya memuaskan,” dia ramah, senyuman professional

“Sangat memuaskan, Trims,” tidak ada lagi waktu untuk berlama-lama,

Di luar sana sudah ada yang menungguku, ketika bunyi terakhir bell pintu itu, itu pertanda aku ingin melupakannya, aku menuju dengan kenyataannya. Sunny.

“Dear, kau didalam café ?” tanyanya bingung, dia memakai mantel bulu, hidungnya sudah memerah, dia terlalu lama diluar

“Maafkan aku, seharusnya aku menyuruhmu masuk,” ucapku, aku mengalungkan syalku kepadanya, kini dia terlihat sangat hangat, wajahnya lucu, dia manis, manis yang nyata

“Ya, seharusnya kau menyuruhku masuk, traktir coffe gitu,” celotehnya

“Coffe?” tanyaku, dia membulatkan matanya, dia pendek, mungil, ingin sekali aku memeluknya erat-erat, sehingga dia benar-benar tidak membuatku pedih dihari ini

“Iya,” jawabnya, pipinya mengembung seperti balon, dia juga mempunyai variasi ekspresi, mungkin tidak begitu istimewa tapi dia tetap asli

“Kau tidak cocok meminum benda pahit seperti itu,”selaku, aku mengeluarkan segelas Hot Chocolate dari dalam kantong, dan menempelkannya tepat di kedua pipi bulatnya

“Tuh, pipimu jadi warna merah,” ejekku, dia segera merebut gelas itu dari tanganku

“Baiknya, aku fikir kau tidak mengingatku hahahaa,” dia tertawa, sangat renyah, aku harus melupakan dia, dia yang berada didalam sana

“Sebenarnya itu untukku,” jawabku bohong, dia tersedak dan sedikit kesal, sangat lucu, mungkin inilah yang namanya alami sesungguhnya, bukan tipuan

Sekali lagi aku melihat ke belakang, sebuah café yang menggantungkanku dengan satu pelayan yang merebut hatiku, di hari itu yang lalu dia merebut jiwaku, di hari ini sekarang dia benar-benar merebut jiwaku lagi, dia kejam tapi benar

Dear, sebaiknya kita berangkat deh, nanti kita terlambat loh,” suara itu menelan semua kerinduanku, aku sekarang dihadirkan dengan kenyataan, bahwa aku bersamanya

Never,” jawabku mantap, aku merangkulnya, tubuh kecilnya, dialah Fa La La ku.

FIN 

Read Comment Like don’t forget it, Saranghae :** 

Single Post Navigation

3 thoughts on “my Fa La La

  1. diteruskan lagi ya, cyiiin
    Idenya dah simple kembangkan lg

    • yaampun kayak gay si kakak mah manggil cyinnya >__>
      iya makasih ya :D :*

  2. bgs bngt makasi,,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 513 pengikut lainnya.